Komplikasi Kehamilan Yang Sering Terjadi Pada Ibu Hamil

Kehamilan adalah suatu kondisi dimana mulai adanya tanda kehidupan individu yang baru atau yang disebut dengan janin dan berkembang di dalam rahim si ibu. Munculnya kehamilan merupakan hasil dari terjadinya  fertilisasi (pembuahan), yaitu penyatuan sel telur ibu dan sel sperma ayah, di tuba falopi ibu yang menghasilkan zigot. Kemudian berlanjut dengan proses implantasi pada uterus yang akibatnya zigot akan berkembang menjadi embrio. Embrio ini akan tumbuh dan berkembang di dalam rahim si ibu hingga tumbuh menjadi janin.

Namun pada masa kehamilannya, bagi beberapa wanita hamil dapat mengalami suatu komplikasi atau masalah-masalah kesehatan selama masa kehamilannya.


A. PENGERTIAN KOMPLIKASI

Komplikasi dalam kedokteran adalah sebuah perubahan yang tidak diinginkan dari sebuah penyakit ataupun kondisi kesehatan. Perubahannya dapat menjadi memburuk atau menunjukkan jumlah gejala yang lebih besar atau perubahan patologi, yang menyebar ke seluruh tubuh atau berdampak pada sistem organ lainnya. 

Sedangkan Komplikasi Kehamilan adalah gangguan kesehatan atau kegawatdaruratan yang terjadi selama periode kehamilan. Komplikasi dapat melibatkan gangguan-gangguan yang dapat menyebabkan kematian pada si ibu, bayi, atau bahkan keduanya.


B. MACAM-MACAM KOMPLIKASI KEHAMILAN

Berikut beberapa komplikasi kehamilan yang paling sering terjadi :

1. Pre-eklamsia

Gambar 1.1 Komplikasi Pre-eklamsia

Pre-eklamsia pada ibu adalah kondisi dimana meningkatnya tekanan darah ibu dan kelebihan protein pada urine yang biasanya terjadi pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu. Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat memicu preeklamsia, yakni seperti :

  • Obesitas atau berat badan berlebihan.
  • Memiliki riwayat diabetes, penyakit ginjal, hipertensi, atau penyakit autoimun.
  • Memiliki riwayat preeklamsia.
  • Kehamilan anak pertama.
  • Mengandung bayi kembar.

Preeklamsia Eklamsia bisa menimbulkan gejala berupa sakit kepala berlebihan, mual, muntah, mengalami gangguan penglihatan, nyeri pada bagian perut atas, hingga sesak napas.

Bila tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi yang bahaya bagi ibu dan janin. Pada kasus terparah, komplikasi ini bisa mengancam nyawa dari keduanya.


2. Anemia

Gambar 2.1 Komplikasi Anemia

    Anemia merupakan suatu kondisi dimana jumlah sel darah merah lebih rendah daripada kadar pada normalnya. Anemia terjadi karena kurangnya asupan zat besi atau folat pada tubuh ibu hamil. Zat besi dan asam folat diperlukan ibu untuk membentuk hemoglobin yang akan berperan menyuplai oksigen untuk seluruh tubuh.

    Kurangnya zat besi ini menyebabkan defisiensi besi. Penyebab lain adalah perubahan hormon, genetik, gangguan pada sistem tubuh, penyakit ginjal, dan lainnya. Ibu hamil yang mengalami komplikasi anemia dapat mengakibatkan bayi lahir prematur atau berat badan bayi di bawah rata-rata.

    Gejala anemia ditandai dengan pusing, lelah, sulit konsentrasi, hingga sesak napas. Untuk meminimalisir komplikasi ini, Anda bisa mengatasinya dengan mengonsumsi makanan yang mengandung tinggi zat besi dan folat untuk meningkatkan produksi jumlah sel darah merah


3. Hiperemesis Gravidarum 

Gambar 3.1 Komplikasi Hiperemesis gravidarum

Hiperemesis gravidarum merupakan komplikasi pada kehamilan yang ditandai dengan munculnya muntah-muntah parah. Hiperemesis gravidarum terjadi pada akhir trimester pertama dan memuncak pada usia kehamilan 20 minggu bahkan berlanjut terus selama kehamilan. Gejala hiperemesis gravidarum ibu ditandai dengan adanya mual yang tidak kunjung hilang, sering muntah dalam sehari, nafsu makan terganggu, berat badan turun, dehidrasi, dan pingsan


4. Diabetes Gestasional

Gambar 4.1 Komplikasi Diabetes gestasional

Diabetes gestasional adalah diabetes yang dialami oleh ibu hamil, dan bisa dialami meski ibu tersebut tidak memiliki riwayat diabetes sebelumnya.  Kondisi ini terjadi ketika gula darah meningkat pada saat hamil. Ibu hamil yang mengalami diabetes gestasional bisa berisiko alami diabetes mellitus setelah hamil.
Komplikasi ini umumnya dialami pada saat usia kehamilan memasuki trimester ketiga. Gejala yang paling umum dialami biasanya sering buang air kecil, sering merasa haus, dan tubuh lebih mudah lelah. Risiko diabetes gestasional pada ibu hamil bisa bisa menyebabkan komplikasi lainnya seperti preeklamsia, kelahiran prematur, penyakit kuning, hingga berat badan bayi lebih besar sehingga menyulitkan persalinan

5. Eklampsia

Gambar 5.1 Komplikasi Eklampsia

Eklampsia merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kejang yang dialami ibu hamil pada saat sebelum, selama, atau pasca persalinan. Eklampsia dapat menyebabkan ibu hamil mengalami kejang, perasaan gelisah berat, hingga hilang kesadaran. Komplikasi ini jarang terjadi namun bisa dialami wanita pada usia kehamilan 20 minggu atau lebih. Bagi ibu hamil yang mengalami eklampsia maka harus segera mendapat penanganan yang tepat. Jika tidak maka dapat membahayakan bagi ibu dan janin.

6. Plasenta Previa

Gambar 6.1 Komplikasi Plasenta previa

Plasenta previa merupakan kondisi suatu komplikasi yang terjadi ketika setengah atau sebagian plasenta menutupi jalan lahir janin karena posisinya yang berada di bawah rahim. Kondisi ini umumnya terjadi pada trimester awal kehamilan. Hingga kini belum diketahui penyebab pastinya namun terdapat beberapa faktor risiko yang bisa memicu seperti rahim abnormal dan kehamilan anak kembar

Kondisi komplikasi ini ditandai dengan pendarahan pada vagina. Jika pendarahan ringan maka ibu disarankan untuk istirahat total. Namun, jika pendarahan yang terjadi cukup berat maka prosedur operasi caesar akan diperlukan


7. Solusia Plasenta

Gambar 7.1 Komplikasi Solusio Plasenta 

Solusio plasenta adalah suatu kondisi komplikasi pada kehamilan dimana sebagian atau seluruh plasenta terlepas dari dinding rahim sang ibu sebelum bayi lahir sehingga menyebabkan pendarahan internal di dalam rahim ibu. Jika kondisi ini terjadi maka dapat menyebabkan asupan oksigen dan nutrisi terhambat.

Belum diketahui pasti mengenai penyebabnya namun faktor yang diduga dapat memicu komplikasi ini adalah trauma fisik dan tekanan darah tinggi. Gejala solusio plasenta ditandai dengan sakit perut, pendarahan pada vagina, hingga kontraksi. Jika plasenta terlepas sebagian atau seluruhnya maka diperlukan persalinan dini.


8. Keguguran Dini

 
Gambar 8.1 Komplikasi Keguguran dini

Keguguran dini atau (early miscarriage) adalah komplikasi kehamilan yang sering terjadi di kehamilan trimester pertama.  Gejala keguguran yang paling umum ditemukan adalah bercak darah dari vagina dengan intensitas ringan sampai berat. Bahkan bisa ditemukan jaringan atau gumpalan dari darah yang dikeluarkan. Jika volume darahnya banyak, berwarna merah terang layaknya darah segar, dan berlangsung lama, ibu perlu waspada dan memeriksaanya ke dokter karena bisa jadi pertanda keguguran.


9. Inkompetensi Serviks

Gambar 9.1 Komplikasi Inkompetensi serviks

Inkompetensi serviks adalah salah satu komplikasi kehamilan yang terjadi ketika serviks atau leher rahim tidak mampu menahan tekanan dari rahim yang makin besar selama hamil sehingga serviks terbuka terlalu awal pada kehamilan. Inkompentesi serviks dapat terjadi di akhir trimester kedua sekitar minggu ke-20 kehamilan. Peningkatan tekanan ini lama-lama menipiskan dan melemahkan serviks sehingga menyebabkannya terbuka sebelum bulan kesembilan. Lemahnya serviks ini pun bisa menjadi penyebab dari ketuban pecah dini dan kelahiran prematur.

Gejala dan tanda inkompetensi serviks yang paling umum dan perlu diwaspadai adalah panggul terasa pegal, keluar cairan keputihan tidak wajar, kram perut.


10. Ketuban Pecah Dini (KPD)

Gambar 10.1 Komplikasi ketuban pecah dini

Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan kondisi ketika kantung ketuban pecah pada usia kehamilan dibawah 37 minggu. Komplikasi kehamilan ini bisa menyebabkan kelahiran prematur dan bayi harus dilahirkan secepatnya karena ia tidak lagi memiliki perlindungan terhadap infeksi. Inkompetensi serviks bisa menjadi salah satu penyebab dari ketuban pecah dini. Gejala yang paling umum adalah keluarnya semburan cairan dari vagina dan rasa seperti mengompol dengan volume air yang banyak

Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina, aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, berwarna pucat, cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena uterus diproduksi sampai kelahiran mendatang. Tetapi, bila duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya “mengganjal” atau “menyumbat” kebocoran untuk sementara. Sementara itu, demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.


11. Kelahiran Prematur

Gambar 11.1 Komplikasi kelahiran prematur

Kelahiran prematur adalah suatu komplikasi kehamilan yang terjadi ketika ibu sudah mengalami kontraksi dan melahirkan sebelum kehamilannya berusia 37 minggu atau lebih awal dari hari perkiraan lahir (HPL). Semakin dini usia kehamilan saat melahirkan prematur, semakin banyak komplikasi kehamilan yang terjadi pada bayi. Gejala paling umum dari kelahiran prematur yaitu, ibu hamil mengalami diare, kontraksi yang menyakitkan sebelum usia kehamilan 37 minggu, keputihan, sampai perdarahan


12. Stillbirth

Gambar 12.1 Komplikasi Stillbirth

Stillbirth atau bayi lahir mati adalah kondisi bayi meninggal di dalam kandungan atau setelah dilahirkan. Stillbirth bisa terjadi saat usia kehamilan di atas 20 minggu. Gejala dari komplikasi kehamilan yang satu ini adalah perdarahan terutama selama trimester kedua kehamilan dan gerakan bayi berkurang selama di dalam kandungan.


C. PENCEGAHAN KOMPLIKASI

Komplikasi kehamilan tidak bisa dihindari dengan sepenuhnya, namun ada beberapa cara pencegahan yang dapat dilakukan ibu untuk mengurangi risiko komplikasinya, yakni :

  • Berolahraga, yoga, atau melakukan aktivitas fisik yang dianjurkan oleh dokter atau bidan
  • Hindari merokok, konsumsi alkohol, hingga obat-obatan terlarang
  • Konsumsi asam folat secukupnya pada masa persiapan kehamilan hingga pada saat hamil
  • Konsumsi makanan sehat dengan memperbanyak buah-buahan, sayuran, protein tanpa lemak, dan serat
  • Minum vitamin prenatal setiap hari
  • Mengelola stress dengan baik
  • Konsultasikan pada dokter atau bidan ketika berencana hamil agar dokter atau bidan dapat membantu dalam mempersiapkannya
  • Melakukan pemeriksaan kehamilan ke dokter secara rutin dan jika Ibu mengalami gejala komplikasi, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.


Referensi:

Healthline.2022. Complications During Pregnancy and Delivery.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. Pregnancy Complications.
National Institute of Child Health and Human Development. Diakses pada 2022. What are some common complications of pregnancy? 
nichd.nih.gov. Diakses pada 2022. What are some common complications of pregnancy?

Komentar

  1. Sangat membantu, terimakasih

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas ilmunya sangat mengedukasi

    BalasHapus
  3. trimakasih ilmunya, semoga semua ibu hamil dapat mengetahui komplikasi yang terjadi agar dapat di tangani.

    BalasHapus
  4. Wahh sangat bermanfaat, saya jadi mengetahui apa saja macam dari komplikasi dari ibu Hamil

    BalasHapus
  5. Terimakasih sangat bermanfaat

    BalasHapus
  6. Barakaullahufik shaliha,, 🤍

    BalasHapus
  7. Wah, artikel ini sangat bermanfaat sekali untuk ibu-ibu dalam memperluas wawasannya mengenai komplikasi dalam kehamilan

    BalasHapus
  8. Terimakasih atas ilmunya sangat menambah wawasan saya

    BalasHapus
  9. wahh sangat bermanfaat sekali ilmunya

    BalasHapus
  10. sangat membantu sekali terima kasih

    BalasHapus
  11. wahhhh ilmu yang sangat bermanfaat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Ibu Hamil